MODEL PEMBELAJARAN CIRC BERBASIS HOTS
Prof. Dr. ENDANG KOMARA, M.Si
Guru Besar LLDIKTI Wilayah IV Dpk pada Magister Pendidikan IPS STKIP Pasundan, Ketua Paguyuban Profesor LLDIKTI Wilayah IV, Ketua Dewan Pakar DPP GNP TIPIKOR, dan Ketua Senat Universitas Nurtanio. |
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slavin (2010:203), bahwa CIRC merupakan sebuah program kompetensi yang luas dan lengkap untuk pembelajaran membaca dan menulis. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah (SMP/SMA). Proses pembelajaran ini mendidik siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Pada model CIRC setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga berbentuk pemahaman dan pengalaman belajar yang sama. Fokus utama kegiatan CIRC adalah membuat penggunaan waktu menjadi lebih efektif. Siswa dikondisikan dalam tim-tim kooperatif yang kemudian di koordinasikan dalam tim membaca, supaya memenuhi tujuan lain seperti pemahaman membaca, kosa kata, pembacaan pesan, dan ejaan serta berpikir kritis. Dengan begitu siswa termotivasi untuk saling bekerjasama dalam sebuah tim.
Menurut Steven (Huda, 2013:222), bahwa langkah-langkah penerapan CIRC, sebagai berikut: Pertama, membentuk kelompk yang masing-masing kelompok terdiri dari 4 (empat) orang. Kedua, guru memberikan materi bahan bacaan sesuai dengan topik pembelajara. Ketiga, siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok yang terdapat dalam wacana kemudian memberikan tanggapan terhadap wacana yang ditulis pada lembar kertas. Keempat, siswa mempresentasikan atau membacakan hasil diskusi kelompok. Kelima, guru memberikan penguatan (reinforcement). Keenam, guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan.
Model pembelajaran CIRC, menempatkan peserta didik pada kelompok kecil yang heterogen, terdiri dari empat sampai lima orang. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan peserta didik. Sehingga dalam satu kelompok terdiri atas bermacam-macam karakter, ada yang pandai, sedang dan kurang. Dalam pembeajaran kooperatif peserta didik dapat meningkatkan berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi (Lenisa dan Lubis, 2016:19). Cara-cara untuk menentukan kelompoknya sebagai berikut: Pertama, menentukan peringkat peserta didik. Dengan cara mencari informasi tentang skor rata-rata nilai peserta didik pada sebelumnya atau nilai rapor. Kemudian diurutkan dengan cara menyusun peringkat dari yang berkemampuan akademik tinggi sampai rendah. Kedua, menentukan jumlah kelompok. Jumlah kelompok ini ditentukan dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok dan jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut. Ketiga, penyusunan anggota kelompok. Pengelompokan ditentukan atas dasar susunan peringkat peserta didik yang telah dibuat. Setiap kelompok diusahakan beranggotakan peserta didik yang mempunyai kemampuan beragam, sehingga mempunyai kemampuan rata-rata yang seimbang (Hake, 1998:1-2).
Menurut Slavin (2010:205-212) mengemukakan delapan komponen dalam model pembelajaran CIRC sebagai berikut: Pertama, Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 (empat) atau 5 (lima) peserta didik. Kedua, Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan peserta didik pada bidang tertentu. Ketiga, Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Keempat, Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya. Kelima, Team Scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas. Keenam, Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok. Ketujuh, Fact test, yakni pelaksanaan tes atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh peserta didik. Kedelapan, whole-class units, yaitu memberikan materi rangkuman oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
Pembelajaran Cooperative Integrated Reading Compasition (CIRC) menuntut peserta didik bertanggung jawab terhadap setiap anggota kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas, sehingga terbentuk pemahaman dan pengalaman belajar yang lama. Sintakmatik model CIRC menurut Steven (Huda, 2013:222) sebagai berikut: Fase Pertama, yaitu orientasi. Pada fase ini guru melakukan apersepsi dan pengetahuan awal peserta didik tentang materi yang akan diberikan. Selain itu juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada peserta didik. Fase Kedua, yaitu organisasi. Guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada peserta didik. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung. Fase Ketiga, yaitu pengenalan konsep. Dengan cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama ekplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, film, kliping, poster atau media lainnya. Fase Keempat, yaitu publikasi. Peserta didik mengkomunikasikan hasil temuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas. Fase Kelima, yaitu fase penguatan dan refleksi. Dalam fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya peserta didik pun diberi kesempatan untuk merefleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.
Pada umumnya permasalahan kompleks yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari memiliki berbagai solusi dengan kriteria yang beragam. Permasalahan seperti itu harus diinterpretasikan dan dianalisa terlebih dahulu agar dapat dicari solusinya. Keteramplan tingkat tinggi perlu dimiliki oleh siswa agar mereka dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang pada umumnya membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Higher Order Thinking Skills (HOTS) akan berkembang jika individu menghadapi masalah yang tidak dikenal, pertanyaan yang menantang, atau menghadapi ketidakpastian. Menurut Lewis dan Smith (1993: 23) berpikir tingkat tinggi akan terjadi jika seseorang memiliki informasi yang disimpan dalam ingatan dan memperoleh informasi baru, kemudian menghubungkan dan menyusun untuk mengembangkan informasi tersebut guna mencapai suatu tujuan ataua memperoleh jawaban atau solusi untuk suatu situasi yang perlu pemecahan secara benar.
Adapun aktivitas dalam pembelajaran HOTS sebagai berikut: Pertama, aktif dalam berpikir. Pembelajaran berbasis HOTS harus membuat semua siswa aktif dalam berpikir. Peran guru tidak begitu dominan dalam proses pembelajaran, namun lebih berperan sebagai fasilitator untuk memberi kemudahan bagi siswa dalam berpikir. Oleh sebab itu guru harus mempersiapkan tugas-tugas yang dapat membuat siswa berpikir kreatif, kritis, dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kedua, memformulasikan masalah. Pembelajaran yang membuat siswa harus memformulasikan masalah merupakan pembelajaran berbasis HOTS. Silver dan Cai (1996:87) berpendapat, bahwa pengajuan masalah dan penyelesaian masalah dapat digunakan untuk mengidentifikasi kreativitas individu. Ketiga, mengkaji permasalahan kompleks. Permasalahan yang dikaji dalam pembelajaran berbasis HOTS adalah permasalahan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengingat atau menerapkan strategi yang telah umum diketahui. Keempat, berpikir divergen dan mengembangkan ide. Pengembangan kreativitas sangat membutuhkan kemampuan berpikir divergen. Melatih siswa untuk berpikir divergen akan mengembangkan kemampuan mereka dalam mengajukan beberapa ide yang berbeda. Kelima, mencari informasi dari berbagai sumber. Pembelajaran dengan menugaskan siswa untuk mencari informasi dari berbagai sumber dapat dilakukan di kelas atau di luar kelas melalui penugasan. Sebaiknya siswa dilatih untuk membuat pertanyaan yang akan dicari informasinya atau solusinya dari berbagai sumber yang berbeda. Keenam, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah secara kreatif. Aktivitas belajar dengan melatih siswa untuk berpikir kritis akan berguna bagi siswa mengevaluasi ide baru, memilih yang terbaik dan melakukan modifikasi yang diperlukan. Jadi pembelajaran berbasis HOTS harus memberikan kesempatan pada siswa untuk terbiasa berpikir kritis dalam menghadapi suatu persoalan atau ketika menerima suatu informasi. Ketujuh, berpikir analitik, evaluasi dan membuat keputusan. Aktivitas belajar membuat keputusan dapat dicirikan ketika siswa diminta memilih suatu cara diantara beberapa cara alternatif yang tersedia.
Dengan demikian Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan pembelajaran kooperatif dengan tujuan agar peserta didik dapat meningkatkan berpikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi yang akhirnya siswa bisa berpikir analitik, evaluatif dan membuat keputusan dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya (HOTS).